Hari ke-31
Gerakannya perlahan. Perahu-perahu kecil sesekali melintas membelah laut. Menyusuri laut cina selatan,di penggiran kota Kuala Tungkal. Sesekalai sampah terombang-ambing mengikuti arus laut.
"Hari ke 31", Emi melihat surat terakhir yang di berikan Abahnya 31 hari yang lalu,
"Emi, Abah pasti pulang. Mungkin sekitar tujuh hari lagi. Ayah tidak bisa pulang sekarang. Paman Hendri sangat perlu bantuan Abah untuk memperbaiki kapal ikan. Emi suka jam tangannya?. Abah juga titip uang sama bang Adi.abah harap emi bisa simpan supaya bisa sekolah lagi. Emi mau melanjutkan sekolahkan ? Emi bantu Ibu dan jaga adik-adik. Doakan Abah, Supaya bisa cepat pulang dengan selamat".
Malam ini cukup pekat, entah kenapa semuanya menghitam.Duduk di pinggir pelabuhan menghadap ke barat laut sungguh tempat penantian yang indah dengan hati yang gundah.
" Aku bisa saja membawa sampan bang Adi untuk menjemput ayah ".
"Gila kau Emi! Bisa mati di telan ombak". Ucap Siti sambil tetap mengarahkan mata ke deburan ombak.
" Badan ku sudah sangat ringan untuk melewati hamparan maut ini. dan bilang ke abah kalau aku mau sekolah".
"sudahlah Emi tak perlu kau seperti ini, ayahmu pasti akan pulang. Bukannya ayahmu sudah mengirimi surat?".
"Ini yang ke 31 harinya ayah tak pulang. Seharusnya sudah kurobek surat ini, kumakan,kutelan. Karena memang tidak ada artinya lagi" Kesal Emi sambil meremas surat dari ayahnya.
Malam ini begitu dingin, sangat berbeda beberapa hari yang lalu tepatnya saat ayahnya masih ada berkumpul dengannya dan kedua adiknya serta ibunya.
"Sudahlah kau boleh pulang dulu Siti, jika kau tak tahan dinginya malam disini". Saran Emi pada teman sejawatnya.
"Baiklah, kau tak mau pulang?". Sapa Siti dengan bahasa mata yang sangat ingin ia pulang bersama Emi.
"Nanti aku susul". Jawab Emi.
"Belum mau pulang kau emi". Panggil seorang Ibu di belakangnya.
" Ibu, kapan Abah pulang?".Tanya Emi
"Tak tahu. Sebentar lagilah". Jawab Ibu
"Berarti sebentar lagi Emi bisa sekolah lagi.
Tapi Emi boleh melanjutkan SMP bu?"
"Iya, kita tanyalah sama Abah dulu, boleh atau tidak."
Emi selalu berusaha meyakinkan Ibunya agar ia bisa bersekolah.Tetapi ia harus menunggu ayahnya yang sudah 31 hari tidak pulang.
"Untuk apa Emi sekolah, lebih baik bantu Ibu mengasinkan ikan dan jaga adik-adik Emi. Tak perlulah sekolah." Jawab Ibu sambil senyum pada Emi.
"Tapi Emi ingin bu dan Emi sudah seharusnya melanjutkan SMP tahun ini ".
"Emi mau dengar Ibu?, kalau Emi sekolah siapa yang bantu Ibu di rumah,menjaga adik-adik dan dari mana bisa makan? Abahmu satu bulan lebih tak pulang-pulsang"
Mendengar penjelasan Ibunya, Emi tertunduk. Ia merasa penantian yang ia lakukan hingga ayah nya pulang tak lekas mengizinkannya bisa sekolah seperti teman-temannya yang lain.
Dalam hati Emi ingin sekali sekolah. Ia ingin belajar agar ia tidak perlu anyir dan bau terasi seperti Ibu dan Abahnya dan bisa mengubah nasib orangtuanya dengan ilmu. Banyak cita-cita bertumpuk dalam kepala kecilnya setelah ia bisa sekolah. tetapi, ada tembok besar di depannya, tradisi hidup yang memaksa ia menjadi primitif di tengah kemajuan.
Malam dengan paduan hati yang membuncah kekecewaan, Emi makin larut dalam pekatnya malam. Ia menagis dan membuang surat dari ayahnya ke laut. Ibunya hanya bisa melihat surat itu tergenang dan terbawa oleh ombak dan mungkin juga segenap harapan emi. Ia merasa sia-sia untuk menunggu ayahnya pulang, menunggu ayahnya menyekolahkannya karena ibu tak mungkin akan bertindak maju menyekolahkannya untuk masa depan seperti ayah.
Tapi tak lama kemudian Emi berdiri, ia tersentak dan teringat penggalan surat dari Abahnya yang ia buang saat kesal tadi,
"Emi, abah pasti pulang. Abah harap emi bisa simpan uangnya supaya bisa sekolah lagi.Emi mau sekolah seperti dulu?.jaga ibu dan adik-adik. Doakan abah, supaya bisa cepat pulang dengan selamat".
"Emi yakin abah pasti pulang !" teriak emi
Ia menyesal telah membuang surat dari ayahnya. Ayahnya pasti mengizinkannya untuk sekolah lagi seperti yang ditulisnya disurat. Hanya perlu menunggu.
"biur…!". Emi terjun ke laut mengambil kertas surat yang dibuangnya saat ia marah tadi.
"Emi!" Ibunya teriak terkejut melihat hal bodoh yang dilakukan oleh anaknya. "Kenapa kau!"
"Ibu…Ibu, tolong emi". Teriak emi sambil berusaha untuk naik kepermukaan dengan surat tergenggam erat dan telah menjadi potongan-potongan kecil di lautan, karena hebatnya kibasan tangan emi di air.
"Tunggu Ibu nak!".Teriak ibu emi dengan sadar ia pun tak bisa berenang untuk menolong anaknya.
"Tolong…tolong…!".Ibu berusaha mencari bantuan dengan berteriak sekencang mungkin di pelabukan itu.
"Ibu…Ibu…!" teriak emi dengan mulut sudah terasa dimasuki oleh air yang mengalir deras mengalir kekerongkongan. Ia sadar betul jika ia tidak akan bisa berenang hanya dengan satu kaki.
Ia berusaha menggerrakkan kaki kanannya yang masih tersisa. Beban tubuhnya makin berat. Matanya hanya bisa melihat kabur kedalam air. Hidungnya sudah tak menghirup udara. Rasanya air didalamnya sudah pedih menusuk otak. Semakin kecil telinganya mendengar teriakan Ibunya dari atas. Pikirannya terlintas bayangan Abahnya "Abah pasti pulang dan emi mau melanjutkan sekolahkan ?".Bayangan yang sejalan sirna dan harapan yang pupus dengan mata yang mulai tertutup.Tapi ia sempat merasakan tangan yang dipegang erat persis abahnya.
"Cepat bawa anakku keatas sini" teriak Ibu pada dua pemuda yang memegang Emi dan membawanya kepermukaan.
"Emi!Emi…!"teriak ibunya sambil mengguncang badan anaknya yang lunglai tanpa hembusan nafas…



